Minggu, 13 November 2016

#NHW4 mendidik dengan fitrah

Mendidik anak dengan fitrah

Tugaa kali ini betul betul buat saya merenung. Bagaimana yaa pencapaian saya selama ini? Bagaimana dengan anak-anak saya. Apakah mereka sudah tumbuh sesuai fitrahnya?

Begitu banyak keinginan dan cita-cita yang diinginkan dari anak-anak. Tapi kembali lagi harus sadar diri, tidak memaksakan sesuatu yang tidak sesuai keinginan anak kita.

Diusia anak kesatu dan kedua fitrah keimanan sudah tumbuh dan terus dikawal. Anak anak juga masih berproses untuk menemukan minat dan bakatnya. Tugas saya mendukung mereka. Mencari apa yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Sedangkan untuk saya pribadi peran yang ingin saya ambil adalah terus mendalami storyteller.
Misi hidup: menjadi inspirasi bagi ibu dan anak
Bidang: pendidikan ibu dan anak
Peran: sebagai storyteller, writer, trainer

Saat ini saya baru bisa beraktivitas lebih leluasa karena anak saya sudah 3 tahun. Masih banyak ilmu, yang belum saya dapat. Oleh karena itu saya ingin memaksimalkan kemampuan saya untuk bisa go Internasional. Saya harus bisa menguasai cerita cerita, bahasa inggris, dan produktif membuat buku di tahun depan. Saya juga ingin mendirikan lembaga pelatihan yang berkaitan dengan ilmu yang saya miliki. Oleh karena itu saya akan mendedikasikan 5 jam setiap harinya untuk itu.
Km 1-
Mempelajari cerita berbahasa inggris
Km 2
Mempelajari ilmu yang berkaitan dengan storytelling
Km 3
Menulis dan menulis
Km 4
Mengasah kemampuan manajerial

Sepertinya itu dulu yang bisa saya tuliskan. Harus di renungkan lagi siih sebetulnya.

Minggu, 06 November 2016

Membangun Peradaban Dari Rumah



#NHW3
Oleh Nia Kurniawati

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Home sweet home ....
Begitulah sebuah pepatah mengatakan tentang indahnya rumah. Rumah tempat beristirahat, rumah sebagai tempat bermulanya sebuah kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Dari rumah pula dibangunnya peradaban sebuah bangsa.
Untuk membangun sebuah peradaban diperlukan struktur yang kuat. Tiang yang kokoh agar pondasi rumah peradaban kuat menyangga segala bentuk halangan dan rintangan yang akan menderanya.
Ayah dan ibu adalah tim yang akan memulai sebuah peradaban dari dalam rumah. Ayah dan ibu adalah teladan yang akan menjadi contoh terbentuknya generasi sholeh dan sholehah. Allah yang Maha Kuasa sudah menetapkan jodoh kita. Tentu saja Allah punya maksud mengapa saya dipertemukan dengan seorang yang kini menjadi ayah anak-anak saya.

30 hari Mencari Cinta

Yup, itulah judul sebuah naskah yang diajukan dan telah diterbitkan dalam sebuah buku. Sebuah pertemuan indah berujung pernikahan antara seorang Nia Kurniawati dan Dadan Ramadhan. Pertemuan yang sudah direncanakan oleh Allah melalui sebuah telepon salah nama berlanjut dengan email taaruf dan akhirnya menikah.
Saya dan suami mempunyai kesamaan di samping perbedaan. Dari portofolio yang dikirim via email, saya belajar mengenal seorang Dadan Ramadhan hingga akhirnya setelah berdoa dan ikhtiar memutuskan “Yes, I Will Marry you!”  

Bahagia? Absolutely yes ... sejak 5 Oktober 2003 saya resmi menjadi istri Dadan Ramadhan. Hingga kini 13 tahun sudah perjalanan cinta tumbuh semakin subur. Suami adalah guru kehidupan saya, dengannya saya belajar banyak. Dengannya saya belajar menjadi seorang ibu, menjadi seorang penulis, menjadi seorang pendongeng. Yaa .. potensi saya tumbuh karena suami yang sudah banyak mendukung saya untuk menjalani apa yang saya sukai.

Saya tahu potensi suami begitu pula dengan suami sangat paham dengan talent yang saya miliki. Kami saling support, terkadang kami membuat project bersama membuat training bareng. Pun ketika di rumah juga kami adalah tim, saling bahu membahu mendidik anak. Ketika saya harus mengisi acara atau belajar di luar maka suami saya bertugas di rumah membereskan rumah dan menjaga anak-anak. Begitu pula sebaliknya ketika suami pergi saya harus bisa handle pernak pernik rumah. Alhamdulillah ya Allah sudah memberikan suami yang multitalent, bukan saja beliau jago di depan mimbar, menghadapi banyak audiens, negosiasi dengan relasi, dan lainnya tapi beliau juga mampu berhadapan dengan cucian, anak rewel, dan lain-lainnya. Jadi, ketika saya pergi saya bisa tenang menitipkan ketiga anak laki-laki pada ayahnya.

Alhamdulillah hingga saat ini cinta kami terus bertambah dan bertambah, evaluasi selalu kami lakukan. Ketika saya khilaf suami mengingatkan, ketika suami khilaf saya pun mengingatkannya. Kelemahan suami tertutupi oleh kesabaran, kesantunan, dan kebaikannya selama ini. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan kasih sayangnya kepada kami sekeluarga. Aamiin.

Dulu, saya merasa saya bukanlah orang yang istimewa. Saya hanya anak biasa yang dari prestasi akademik biasa-biasa saja. Apalagi jika dibandingkan suami yang selalu meraih predikat siswa terbaik. Saya terkadang bertanya pada diri saya sendiri mengapa sih kok saya ga bisa seperti teman-teman saya ya, ranking 1, dapat hadiah dan lain-lainnya. Sementara saya untuk mendapat predikat juara kelas itu susahnya luar biasa. Sampai IPK saya pun pas di angka 3. Ditambah lagi ketika melamar kerja yang ketika mendapat pekerjaan tidak istimewa, gajinya kecil dan pekerjaannya buat saya tidak menyenangkan sehingga saya hanya bertahan 1,5 tahun saja bekerja pada orang lain.

Ternyata oh ... ternyata Allah punya rencana yang indah untuk saya. Saya dipertemukan dengan seseorang yang asyik, membuat saya nyaman dan membuat saya mengenal dunia yang sebelumnya tidak tebersit dalam ingatan. Ya, saya diperkenalkan dengan dunia kepenulisan sehingga bisa lahir puluhan karya yang kami kerjakan bersama. Ya, sejak menikah, saya dan suami adalah teamwork. Kami mengerjakan naskah hingga bisa membeli rumah. Suami juga sangat mendukung talent saya. Saya suka mendongeng, saya ingin jadi trainer. Dia support saya, perlahan tapi pasti saya disupport untuk belajar terus dan terus. Hingga di tahun 2011 penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif saya dapat.

Subhanallah ya, rencana Allah itu indah. Saya dimotivasi untuk terus berkarya, saya didorong untuk terus berusaha menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya dimotivasi untuk terus belajar dan berbagi bukan hanya dengan keluarga tapi juga dengan orang lain. Begitu banyak ibu yang tidak bisa mendongeng, mereka jadi tahu manfaat dan cara mendongeng. Betapa saya puas, betapa saya bahagia ketika saya bisa membuat seorang anak tersenyum. Betapa saya senang ketika seseorang menjadi bisa membuat anaknya tersenyum karena ibunya bisa mendongeng. Saya kira itulah me time saya, ketika saya bisa dengan bahagia berbagi ilmu untuk orang lain. Khairunnaasi `anfa'uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bemanfaat bagi yang lainnya. 

“Oh, anaknya laki-laki semua, ya? Tambah lagi dong ....”

Begitulah komentar setiap orang ketika mengetahui semua anak saya laki-laki. Hehehe ...
Saya yakin ketika Allah memberikan saya tiga anak laki laki, bukan anak perempuan, Allah mempunyai maksud baik untuk saya. Mungkin saya punya kapabilitas untuk mendidik calon pemimpin bangsa, Aamiin.

Ya, itulah konsentrasi kami saat ini. Saya dan suami harus mendidik ketiga anak kami menjadi bintang di kehidupannya. Mendidik anak di zaman sekarang, sungguh tidak mudah. Meleng sedikit saja, maka anak kita akan asyik dengan mainannya sendiri. Sedini mungkin peran keluarga harus tertanam kuat pada diri mereka. Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini, peran saya sebagai ibu harus ada ketika mereka butuh. Fitrah keimanan di tujuh tahun pertama kehidupannya harus tertanam kuat dalam hati. Sehingga ketika mereka memasuki tahap berikut mereka sudah siap dengan amanah berikutnya. Komunikasi produktif dengan anak harus terjalin dengan baik. Menjadi ibu ideal adalah impian saya sehingga saya bertanya kepada mereka maunya ibu seperti apa, sih? Dan apa jawaban mereka? Ibu yang suka menemani mereka ketika akan tidur, sesederhana itu keinginan anak-anak.

Seberapa besar manfaat saya buat lingkungan saya? Selain peran saya sebagai istri dan ibu, di lingkungan sekitar pun ada hal yang harus kita bagi dengan lingkungan sekitar saya. Ya … Allah mempunyai maksud mengapa saya ada di lingkungan komplek yang saya tempati. Terlibat aktif di lingkungan sekitar adalah salah satu cara untuk membuat diri saya lebih bermanfaat, begitu pula ketika ada kebutuhan mendirikan sekolah TK saya terpanggil untuk membentuk anak-anak di lingkungan sekitar saya, menjadi sholeh dan sholehah. Mudah menjalaninya? Tentu tidak. Ada tantangan yang harus saya hadapi. Saya berusaha sekuat tenaga agar saya menjadi bermanfaat untuk lingkungan namun tetap memprioritaskan keluarga saya. Karena walau bagaimanapun prioritas saya adalah keluarga, anak-anak saya yang harus saya didik yang harus didampingi sehingga mereka bisa tumbuh dengan optimal.

Menjalani kehidupan ini memang tidak mudah, setiap orang mempunyai tantangannya masing-masing. Ada yang diuji oleh suami, anak-anak, ataupun yang lainnya. Namun kita harus berusaha keras menjadi sebuah tim yang solid agar kelak bisa mewujudkan visi misi keluarga kita. Ketika tercapai, maka peradaban dari rumah akan terwujud sempurna. Wallaahu a’lam

Sabtu, 29 Oktober 2016

Checklist indikator profesionalisme perempuan


#NHW2
By Nia Kurniawati

Nice homework dari program matrikulasi IIp kali ini adalah tentang indikator Ibu professional. Apa saja sih indikator menjadi ibu professional itu menurut saya?

Sebagai individu:
  • -          Melakukan kewajiban sebagai hamba yang beriman, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yaitu menjadikan tilawah, hapalan, sholat sebagai habit.
  • -          Baca buku one day one week
  • -          Melakukan me time
  • -          Meningkatkan skill pribadi di bidang storytelling dan ilmu yang berkaitan untuk pengembangan diri
  • -          Silaturahim dengan tetangga dengan berpartisipasi ikut kegiatan lingkungan
  • -          Hadir di majelis ilmu setiap minggu
Sebagai Ibu
  • -          Memenuhi semua kebutuhan anak-anak
  • -          Melakukan pembiasaan ibadah yang dimulai dari saya sebagai teladan bagi anak-anak
  • -          Melatih life skill anak sesuai dengan usia mereka
  • -          Menjadi pendengar aktif bagi anak-anak
  • -          Memotivasi anak-anak dengan cara yang ahsan dan asyik (tanpa merasa digurui)
  • -          Menjadi pendongeng asyik bagi anak-anak, “one day one siroh”
  • -          Komunikasi produktif dengan anak-anak
  • -          Sabar menghadapi perilaku anak-anak
  • -          Rajin memeluk dan mencium anak meskipun sudah besar, min 2x sehari
Sebagai istri
  • -          Melakukan komunikasi produktif dengan suami
  • -          Membatasi kesibukan dan full service untuk suami
  • -          Motivator bagi suami
  • -          Selalu tampil cantik untuk suami, dari mulai bangun hingga tidur lagi
  • -          Menerima kondisi suami apa adanya
  • -          Menegur suami dengan santun jika ia melakukan kesalahan
  • -          Ikhlas ditinggal tugas ke luar kota
  • -          Semangat belajar memperbaiki diri
  • -          Menjadi istri yang perhatian pada suami
  • -          Menjaga harta suami
  • -          Menjaga diri dan anak-anak

Kamis, 20 Oktober 2016

Belajar itu Menyenangkan

              
Niakuri/NHW#1
 

Saya sangat senang bergabung dengan para ibu dan muslimah yang semangat belajar. karena saya pun demikian. Perkenalkan saya Niakuri seorang ibu tiga anak yang selalu semangat untuk belajar. Semoga kehadiran saya di komunitas IIP bermanfaat untuk semua.

Menjadi ibu dan istri yang sholehah adalah tujuan utama saya berumah tangga. Peran itulah yang akan menghantarkan saya menuju kebahagiaan sejati. Di awal tahun menjalani peran sebagai ibu saya banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan parenting. Saya haus ilmu, saya butuh ilmu mendidik anak karena nanti tugas mulia saya adalah mengasuh dan mendidik anak. 

O iya ketika dinyatakan positif hamil anak pertama saya sudah terdaftar untuk belajar di LPGTK, sekolah guru TK. Jadi selama hamil anak pertama saya kuliah, mendapatkan ilmu bagaimana menjadi seorang guru TK. Niat awal adalah ingin menjadi guru TK. Tapi ternyata ketika wisuda saya melahirkan, jadi tidak sempat ikut wisuda. Dan akhirnya memutuskan untuk menjadi guru bagi anak saya sendiri.

Hamil anak kedua saya sekolah lagi, tapi kali ini sekolah Thibbun Nabawi. Yaa … belajar pengobatan islam. Tujuannya agar saya bisa menjadi dokter bagi keluarga saya. Karena  kesehatan keluargapun menjadi masalah krusial buat saya.  Selama hamil pula saya belajar bekam, akupunktur sampai pernah merasakan menjadi seorang terapis.

Hamil anak ketiga saya belajar kesehatan juga, dan public speaking. Kehamilan menjadi sebuah proses yang menyenangkan, selain belajar untuk saya sendiri saya berharap anak saya pun belajar. Mudah-mudahan kelak mereka cinta ilmu.

Setiap kali membaca buku rasanya ilmu semakin kurang, maka belajar pun terus dilakukan. Belajar menjadi sebuah kebutuhan untuk saya pribadi. Ketika saya menghadiri seminar parenting atau seminar lain itulah me time saya. Hidup saya jadi lebih berwarna. I love colourful life

Jika Allah masih memberikan waktu untuk saya belajar saya betul betul ingin mendalami ilmu public speaking yang masih jauh dari sempurna. Profesi yang saya tekuni sebagai seorang trainer, pendongeng, dan juga penulis buku menuntut saya untuk lebih expert di bidang yang saya pilih.  

Dulu saya senang bicara di depan cermin. Dulu ketika berada di majelis ilmu saya bermimpi kelak saya lah yang akan berada di depan audiens untuk berbicara. Dan .. Alhamdulillah itu semua telah terwujud. Dan saya harus terus menimba ilmu agar ilmu yang saya bagikan semakin berkualitas.

Ladang dakwah itu luas, menjadi seorang storyteller dan trainer adalah pilihan saya untuk berdakwah pada segmentasi anak dan dewasa. Saya sangat menyadari anak-anak adalah investasi yang berharga bagi kedua orangtuanya. Melalui kegiatan mendongeng saya ingin membentuk karakter anak, melalui training yang saya lakukan saya juga ingin mengajak para Ayahbunda untuk menjadi idola bagi anak-anaknya. Karena diharapkan melalui kegiatan bercerita Ayahbunda dapat menyampaikan siroh yang notabene serius menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. Storytelling is fun!

Lalu bagaimana saya bisa meningkatkan kapasitas keilmuan saya?
Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan kapasitas keilmuans saya:
1.    Buku
Banyak baca banyak tahu!
Yes, itulah yang harus saya lakukan. Semakin banyak referensi bacaan yang saya lahap maka saya akan semakin tahu.

2.    Menghadiri workshop/seminar
Jika ingin menjadi mahir maka belajarlah pada ahlinya. Belajar pada ahlinya bukan sesuatu hal yang mudah. Semuanya butuh pengorbanan, tapi memang harus dilakukan jika kita ingin meningkatkan kapasitas keilmuan kita.

3.    Berkolaborasi
Berkolaborasi dengan orang yang se visi dan misi sangat menyenangkan. Berada dekat mereka akan membuat hidup semakin asyik. Impian kita akan cepat terwujud

4.    Meningkatkan jam terbang
Membuat time line untuk meningkatkan kapasitas kemampuan kita secara berkala. Bakat itu hanya 1% dan 99% adalah usaha. Maka berikhtiarlah dengan segenap kemampuan karena Allah akan melihat sampai sejauh mana kita berikhtiar, jika sudah berikhtiar maka serahkan hasilnya pada Allah SWT.

O ya berkaitan dengan peran saya sebagai ibu dan istri maka semua kegiatan saya akan otomatis menyesuaikan kondisi keluarga. Mereka tetap sebagai top priority. Saya tidak akan berprestasi jika mereka tidak terurus. Prestasi yang saya capai hingga sekarang adalah karena saya berusaha keras untuk membuat keluarga saya nyaman, terpenuhi semua kebutuhannya. Sehingga saya bisa tenang beraktivitas dan berkarya.

Berkaitan dengan adab mencari ilmu maka saya memaksimalkan usaha saya untuk mencari ilmu,menghargai orang yang telah berbagi ilmu dengan saya. Dan yang paling penting adalah saya yang harus rendah hati ketika sudah mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan tentu ketika saya mendapat ilmu maka saya akan dengan senang hati membaginya dengan orang-orang yang bisa saya jangkau. Misalnya mengisi di acara sosial, arisan, dan juga workshop saya. Bahwa ketika kita berbagi ilmu maka sebisa mungkin saya berbagi hal yang sudah saya lakukan. Jadi semuanya bermula dari diri sendiri kemudian mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa.

 InsyaAllah semoga apa yang saya lakukan bermanfaat untuk orang lain.