Mendidik anak dengan fitrah
Tugaa kali ini betul betul buat saya merenung. Bagaimana yaa pencapaian saya selama ini? Bagaimana dengan anak-anak saya. Apakah mereka sudah tumbuh sesuai fitrahnya?
Begitu banyak keinginan dan cita-cita yang diinginkan dari anak-anak. Tapi kembali lagi harus sadar diri, tidak memaksakan sesuatu yang tidak sesuai keinginan anak kita.
Diusia anak kesatu dan kedua fitrah keimanan sudah tumbuh dan terus dikawal. Anak anak juga masih berproses untuk menemukan minat dan bakatnya. Tugas saya mendukung mereka. Mencari apa yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.
Sedangkan untuk saya pribadi peran yang ingin saya ambil adalah terus mendalami storyteller.
Misi hidup: menjadi inspirasi bagi ibu dan anak
Bidang: pendidikan ibu dan anak
Peran: sebagai storyteller, writer, trainer
Saat ini saya baru bisa beraktivitas lebih leluasa karena anak saya sudah 3 tahun. Masih banyak ilmu, yang belum saya dapat. Oleh karena itu saya ingin memaksimalkan kemampuan saya untuk bisa go Internasional. Saya harus bisa menguasai cerita cerita, bahasa inggris, dan produktif membuat buku di tahun depan. Saya juga ingin mendirikan lembaga pelatihan yang berkaitan dengan ilmu yang saya miliki. Oleh karena itu saya akan mendedikasikan 5 jam setiap harinya untuk itu.
Km 1-
Mempelajari cerita berbahasa inggris
Km 2
Mempelajari ilmu yang berkaitan dengan storytelling
Km 3
Menulis dan menulis
Km 4
Mengasah kemampuan manajerial
Sepertinya itu dulu yang bisa saya tuliskan. Harus di renungkan lagi siih sebetulnya.
Minggu, 13 November 2016
Minggu, 06 November 2016
Membangun Peradaban Dari Rumah
#NHW3
Oleh
Nia Kurniawati
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Home
sweet home ....
Begitulah sebuah pepatah
mengatakan tentang indahnya rumah. Rumah tempat beristirahat, rumah sebagai
tempat bermulanya sebuah kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Dari rumah pula
dibangunnya peradaban sebuah bangsa.
Untuk membangun sebuah
peradaban diperlukan struktur yang kuat. Tiang yang kokoh agar pondasi rumah
peradaban kuat menyangga segala bentuk halangan dan rintangan yang akan
menderanya.
Ayah dan ibu adalah tim yang
akan memulai sebuah peradaban dari dalam rumah. Ayah dan ibu adalah teladan
yang akan menjadi contoh terbentuknya generasi sholeh dan sholehah. Allah yang
Maha Kuasa sudah menetapkan jodoh kita. Tentu saja Allah punya maksud mengapa
saya dipertemukan dengan seorang yang kini menjadi ayah anak-anak saya.
30
hari Mencari Cinta
Yup, itulah judul sebuah
naskah yang diajukan dan telah diterbitkan dalam sebuah buku. Sebuah pertemuan
indah berujung pernikahan antara seorang Nia Kurniawati dan Dadan Ramadhan. Pertemuan
yang sudah direncanakan oleh Allah melalui sebuah telepon salah nama berlanjut dengan email taaruf dan
akhirnya menikah.
Saya dan suami mempunyai
kesamaan di samping perbedaan. Dari portofolio yang dikirim via email, saya belajar mengenal
seorang Dadan Ramadhan hingga akhirnya setelah berdoa dan ikhtiar memutuskan “Yes, I Will Marry you!”
Bahagia? Absolutely yes ...
sejak 5 Oktober 2003 saya resmi menjadi istri Dadan Ramadhan. Hingga kini 13
tahun sudah perjalanan cinta tumbuh semakin subur. Suami adalah guru kehidupan
saya, dengannya saya belajar banyak. Dengannya saya belajar menjadi seorang
ibu, menjadi seorang penulis, menjadi seorang pendongeng. Yaa .. potensi saya
tumbuh karena suami yang sudah banyak mendukung saya untuk menjalani apa yang
saya sukai.
Saya tahu potensi suami begitu pula dengan suami sangat paham dengan talent yang saya miliki. Kami saling support, terkadang kami membuat project bersama membuat training bareng. Pun ketika di rumah juga kami adalah tim, saling bahu membahu mendidik anak. Ketika saya harus mengisi acara atau belajar di luar maka suami saya bertugas di rumah membereskan rumah dan menjaga anak-anak. Begitu pula sebaliknya ketika suami pergi saya harus bisa handle pernak pernik rumah. Alhamdulillah ya Allah sudah memberikan suami yang multitalent, bukan saja beliau jago di depan mimbar, menghadapi banyak audiens, negosiasi dengan relasi, dan lainnya tapi beliau juga mampu berhadapan dengan cucian, anak rewel, dan lain-lainnya. Jadi, ketika saya pergi saya bisa tenang menitipkan ketiga anak laki-laki pada ayahnya.
Alhamdulillah hingga saat
ini cinta kami terus bertambah dan bertambah, evaluasi selalu kami lakukan. Ketika
saya khilaf suami mengingatkan, ketika suami khilaf saya pun mengingatkannya. Kelemahan
suami tertutupi oleh kesabaran, kesantunan, dan kebaikannya selama ini. Semoga Allah
senantiasa memberikan rahmat dan kasih sayangnya kepada kami sekeluarga. Aamiin.
Dulu, saya merasa saya
bukanlah orang yang istimewa. Saya hanya anak biasa yang dari prestasi akademik
biasa-biasa saja. Apalagi jika dibandingkan suami yang selalu meraih predikat
siswa terbaik. Saya terkadang bertanya pada diri saya sendiri mengapa sih kok saya ga bisa seperti teman-teman saya ya, ranking 1, dapat hadiah dan
lain-lainnya. Sementara saya untuk mendapat predikat juara kelas itu susahnya
luar biasa. Sampai IPK saya pun pas di angka 3. Ditambah lagi ketika melamar
kerja yang ketika mendapat pekerjaan tidak istimewa, gajinya kecil dan
pekerjaannya buat saya tidak menyenangkan sehingga saya hanya bertahan 1,5
tahun saja bekerja pada orang lain.
Ternyata oh ... ternyata
Allah punya rencana yang indah untuk saya. Saya dipertemukan dengan seseorang
yang asyik, membuat saya nyaman dan membuat saya mengenal dunia yang sebelumnya
tidak tebersit dalam ingatan. Ya, saya diperkenalkan dengan dunia kepenulisan
sehingga bisa lahir puluhan karya yang kami kerjakan bersama. Ya, sejak
menikah, saya dan suami adalah teamwork.
Kami mengerjakan naskah hingga bisa membeli rumah. Suami juga sangat mendukung
talent saya. Saya suka mendongeng, saya ingin jadi trainer. Dia support saya,
perlahan tapi pasti saya disupport untuk belajar terus dan terus. Hingga di tahun
2011 penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif saya dapat.
Subhanallah ya, rencana
Allah itu indah. Saya dimotivasi untuk terus berkarya, saya didorong untuk terus
berusaha menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya dimotivasi untuk terus belajar
dan berbagi bukan hanya dengan keluarga tapi juga dengan orang lain. Begitu banyak
ibu yang tidak bisa mendongeng, mereka jadi tahu manfaat dan cara mendongeng. Betapa
saya puas, betapa saya bahagia ketika saya bisa membuat seorang anak tersenyum.
Betapa saya senang ketika seseorang menjadi bisa membuat anaknya tersenyum karena
ibunya bisa mendongeng. Saya kira itulah me
time saya, ketika saya bisa dengan bahagia berbagi ilmu untuk orang lain. Khairunnaasi `anfa'uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bemanfaat bagi yang lainnya.
“Oh, anaknya laki-laki semua, ya? Tambah lagi dong ....”
Begitulah komentar setiap orang ketika mengetahui semua anak saya laki-laki. Hehehe ...
Saya yakin ketika Allah
memberikan saya tiga anak laki laki, bukan anak perempuan, Allah mempunyai
maksud baik untuk saya. Mungkin saya punya kapabilitas untuk mendidik calon
pemimpin bangsa, Aamiin.
Ya, itulah konsentrasi kami saat ini. Saya dan suami harus mendidik ketiga anak kami menjadi bintang di kehidupannya. Mendidik anak di zaman sekarang, sungguh tidak mudah. Meleng sedikit saja, maka anak kita akan asyik dengan mainannya sendiri. Sedini mungkin peran keluarga harus tertanam kuat pada diri mereka. Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini, peran saya sebagai ibu harus ada ketika mereka butuh. Fitrah keimanan di tujuh tahun pertama kehidupannya harus tertanam kuat dalam hati. Sehingga ketika mereka memasuki tahap berikut mereka sudah siap dengan amanah berikutnya. Komunikasi produktif dengan anak harus terjalin dengan baik. Menjadi ibu ideal adalah impian saya sehingga saya bertanya kepada mereka maunya ibu seperti apa, sih? Dan apa jawaban mereka? Ibu yang suka menemani mereka ketika akan tidur, sesederhana itu keinginan anak-anak.
Seberapa besar manfaat saya buat lingkungan saya? Selain peran saya sebagai istri dan ibu, di lingkungan sekitar pun ada hal yang harus kita bagi dengan lingkungan sekitar saya. Ya … Allah mempunyai maksud mengapa saya ada di lingkungan komplek yang saya tempati. Terlibat aktif di lingkungan sekitar adalah salah satu cara untuk membuat diri saya lebih bermanfaat, begitu pula ketika ada kebutuhan mendirikan sekolah TK saya terpanggil untuk membentuk anak-anak di lingkungan sekitar saya, menjadi sholeh dan sholehah. Mudah menjalaninya? Tentu tidak. Ada tantangan yang harus saya hadapi. Saya berusaha sekuat tenaga agar saya menjadi bermanfaat untuk lingkungan namun tetap memprioritaskan keluarga saya. Karena walau bagaimanapun prioritas saya adalah keluarga, anak-anak saya yang harus saya didik yang harus didampingi sehingga mereka bisa tumbuh dengan optimal.
Menjalani kehidupan ini
memang tidak mudah, setiap orang mempunyai tantangannya masing-masing. Ada yang
diuji oleh suami, anak-anak, ataupun yang lainnya. Namun kita harus berusaha
keras menjadi sebuah tim yang solid agar kelak bisa mewujudkan visi misi
keluarga kita. Ketika tercapai, maka peradaban dari rumah akan terwujud
sempurna. Wallaahu a’lam
Sabtu, 29 Oktober 2016
Checklist indikator profesionalisme perempuan
#NHW2
By
Nia Kurniawati
Nice homework dari program matrikulasi IIp kali ini
adalah tentang indikator Ibu professional. Apa saja sih indikator menjadi ibu
professional itu menurut saya?
Sebagai
individu:
- - Melakukan kewajiban sebagai hamba yang beriman, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yaitu menjadikan tilawah, hapalan, sholat sebagai habit.
- - Baca buku one day one week
- - Melakukan me time
- - Meningkatkan skill pribadi di bidang storytelling dan ilmu yang berkaitan untuk pengembangan diri
- - Silaturahim dengan tetangga dengan berpartisipasi ikut kegiatan lingkungan
- - Hadir di majelis ilmu setiap minggu
Sebagai
Ibu
- - Memenuhi semua kebutuhan anak-anak
- - Melakukan pembiasaan ibadah yang dimulai dari saya sebagai teladan bagi anak-anak
- - Melatih life skill anak sesuai dengan usia mereka
- - Menjadi pendengar aktif bagi anak-anak
- - Memotivasi anak-anak dengan cara yang ahsan dan asyik (tanpa merasa digurui)
- - Menjadi pendongeng asyik bagi anak-anak, “one day one siroh”
- - Komunikasi produktif dengan anak-anak
- - Sabar menghadapi perilaku anak-anak
- - Rajin memeluk dan mencium anak meskipun sudah besar, min 2x sehari
Sebagai
istri
- - Melakukan komunikasi produktif dengan suami
- - Membatasi kesibukan dan full service untuk suami
- - Motivator bagi suami
- - Selalu tampil cantik untuk suami, dari mulai bangun hingga tidur lagi
- - Menerima kondisi suami apa adanya
- - Menegur suami dengan santun jika ia melakukan kesalahan
- - Ikhlas ditinggal tugas ke luar kota
- - Semangat belajar memperbaiki diri
- - Menjadi istri yang perhatian pada suami
- - Menjaga harta suami
- - Menjaga diri dan anak-anak
Kamis, 20 Oktober 2016
Belajar itu Menyenangkan
Niakuri/NHW#1
Saya sangat senang bergabung dengan para ibu dan muslimah yang semangat belajar. karena saya pun demikian. Perkenalkan saya Niakuri seorang ibu tiga anak yang selalu semangat untuk belajar. Semoga kehadiran saya di komunitas IIP bermanfaat untuk semua.
Menjadi ibu dan istri yang
sholehah adalah tujuan utama saya berumah tangga. Peran itulah yang akan
menghantarkan saya menuju kebahagiaan sejati. Di awal tahun menjalani peran
sebagai ibu saya banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan parenting. Saya haus ilmu, saya butuh
ilmu mendidik anak karena nanti tugas mulia saya adalah mengasuh dan mendidik
anak.
O iya ketika dinyatakan
positif hamil anak pertama saya sudah terdaftar untuk belajar di LPGTK, sekolah
guru TK. Jadi selama hamil anak pertama saya kuliah, mendapatkan ilmu bagaimana
menjadi seorang guru TK. Niat awal adalah ingin menjadi guru TK. Tapi ternyata
ketika wisuda saya melahirkan, jadi tidak sempat ikut wisuda. Dan akhirnya
memutuskan untuk menjadi guru bagi anak saya sendiri.
Hamil anak kedua saya
sekolah lagi, tapi kali ini sekolah Thibbun Nabawi. Yaa … belajar pengobatan
islam. Tujuannya agar saya bisa menjadi dokter bagi keluarga saya. Karena kesehatan keluargapun menjadi masalah krusial
buat saya. Selama hamil pula saya
belajar bekam, akupunktur sampai pernah merasakan menjadi seorang terapis.
Hamil anak ketiga saya
belajar kesehatan juga, dan public speaking. Kehamilan menjadi sebuah proses
yang menyenangkan, selain belajar untuk saya sendiri saya berharap anak saya
pun belajar. Mudah-mudahan kelak mereka cinta ilmu.
Setiap kali membaca buku
rasanya ilmu semakin kurang, maka belajar pun terus dilakukan. Belajar menjadi
sebuah kebutuhan untuk saya pribadi. Ketika saya menghadiri seminar parenting
atau seminar lain itulah me time
saya. Hidup saya jadi lebih berwarna. I
love colourful life
Jika Allah masih memberikan
waktu untuk saya belajar saya betul betul ingin mendalami ilmu public speaking
yang masih jauh dari sempurna. Profesi yang saya tekuni sebagai seorang
trainer, pendongeng, dan juga penulis buku menuntut saya untuk lebih expert di
bidang yang saya pilih.
Dulu saya senang bicara di depan
cermin. Dulu ketika berada di majelis ilmu saya bermimpi kelak saya lah yang
akan berada di depan audiens untuk berbicara. Dan .. Alhamdulillah itu semua
telah terwujud. Dan saya harus terus menimba ilmu agar ilmu yang saya bagikan
semakin berkualitas.
Ladang dakwah itu luas,
menjadi seorang storyteller dan trainer adalah pilihan saya untuk
berdakwah pada segmentasi anak dan dewasa. Saya sangat menyadari anak-anak
adalah investasi yang berharga bagi kedua orangtuanya. Melalui kegiatan
mendongeng saya ingin membentuk karakter anak, melalui training yang saya
lakukan saya juga ingin mengajak para Ayahbunda untuk menjadi idola bagi anak-anaknya.
Karena diharapkan melalui kegiatan bercerita Ayahbunda dapat menyampaikan siroh
yang notabene serius menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. Storytelling is fun!
Lalu bagaimana saya bisa
meningkatkan kapasitas keilmuan saya?
Ada beberapa hal yang bisa
meningkatkan kapasitas keilmuans saya:
1.
Buku
Banyak baca banyak tahu!
Yes, itulah yang harus saya lakukan. Semakin
banyak referensi bacaan yang saya lahap maka saya akan semakin tahu.
2.
Menghadiri
workshop/seminar
Jika ingin menjadi mahir maka belajarlah pada
ahlinya. Belajar pada ahlinya bukan sesuatu hal yang mudah. Semuanya butuh
pengorbanan, tapi memang harus dilakukan jika kita ingin meningkatkan kapasitas
keilmuan kita.
3.
Berkolaborasi
Berkolaborasi dengan orang yang se visi dan misi
sangat menyenangkan. Berada dekat mereka akan membuat hidup semakin asyik.
Impian kita akan cepat terwujud
4.
Meningkatkan
jam terbang
Membuat time line untuk meningkatkan
kapasitas kemampuan kita secara berkala. Bakat itu hanya 1% dan 99% adalah
usaha. Maka berikhtiarlah dengan segenap kemampuan karena Allah akan melihat
sampai sejauh mana kita berikhtiar, jika sudah berikhtiar maka serahkan
hasilnya pada Allah SWT.
O ya berkaitan dengan peran saya sebagai ibu
dan istri maka semua kegiatan saya akan otomatis menyesuaikan kondisi keluarga.
Mereka tetap sebagai top priority. Saya
tidak akan berprestasi jika mereka tidak terurus. Prestasi yang saya capai
hingga sekarang adalah karena saya berusaha keras untuk membuat keluarga saya
nyaman, terpenuhi semua kebutuhannya. Sehingga saya bisa tenang beraktivitas
dan berkarya.
Berkaitan dengan adab mencari ilmu maka saya
memaksimalkan usaha saya untuk mencari ilmu,menghargai orang yang telah berbagi
ilmu dengan saya. Dan yang paling penting adalah saya yang harus rendah hati
ketika sudah mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan tentu ketika saya mendapat
ilmu maka saya akan dengan senang hati membaginya dengan orang-orang yang bisa
saya jangkau. Misalnya mengisi di acara sosial, arisan, dan juga workshop saya.
Bahwa ketika kita berbagi ilmu maka sebisa mungkin saya berbagi hal yang sudah
saya lakukan. Jadi semuanya bermula dari diri sendiri kemudian mengajak orang
lain untuk melakukan hal serupa.
InsyaAllah semoga apa yang saya lakukan
bermanfaat untuk orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
